Ilmu Seputar Aqiqah

Dibawah ini kamu akan menemukan beberapa hal tentang aqiqah beserta dasar hukum dan dalil aqiqah. Kamu bisa langsung membaca dan mempelajarinya dengan baik supaya bisa lebih mendalami ilmu aqiqah dengan sangat baik dan benar.

Ilmu Seputar Aqiqah1

 

Dasar Hukum dan Dalil Aqiqah (Akikah)

– Dalam Sebuah Hadits Riwayat Ahmad & Imam 4 Hadits shohih menurut Tirmidzi.

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويتصدق بوزن شعره فضة أو ما يعادلها ويسمى

Maknanya: Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Maka hendaknya pada hari ketujuh disembelih hewan. Lalu dicukur rambutnya, dan diberikan nama padanya

– Dalam Hadits Shohih Bukhari
مع الغلام عقيقه فأهريقوا عنه دما وأميطوا عنه الأذى

Maknanya: Setiap anak bersama aqiqahnya. Maka hendaknya sembelihlah hewan & hilangkanlah gangguan darinya

– Dalam Hadits riwayat Abu Daud
أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ

Maknanya: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberikan perintah mereka agar beraqiqah dengan dua ekor kambing yang sepadan (besar dan umurnya) bagi bayi laki-laki & seekor kambing bagi bayi perempuan.

– Dalam Hadits Riwayat Malik & Ahmad
وَزَنَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ شَعَرَ حَسَنٍ وَحُسَيْنٍ، فَتَصَدَّقَتْ بِزِنَتِهِ فِضَّةً.

Maknanya: Fatimah Binti Rasulullah SAW (setelah melahirkan Hasan dan Husain) mencukur rambut Hasan & Husain lalu ia bersedekah perak seberat timbangan rambutnya.

– Dalam Hadits riwayat Abu Daud dan Nasai
مَنْ اَحَبَّ مِنْكُمْ اَنْ يُنْسَكَ عَنِ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنِ الْغُلاَمِ شاَتَاَنِ مُكاَفأَ َتاَنِ وَعَنِ الْجاَ رِيَةِ شاَةٌ

Maknanya: Barang siapa diantara kalian senang anaknya beribadah hendaklah dilakukan aqiqah bagi anak laki-laki 2 ekor kambing yang sama umurnya dan bagi anak perempuan seekor kambing

– Berdasar Hadits riwayat Abu Daud
أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ اَلْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا
Maknanya: Nabi SAW beraqiqah untuk Hasan & Husein masing-masing seekor kambing kibas.

Bacaan Ketika Menyembelih Hewan Aqiqah

Disunnah membaca niat untuk aqiqah (akikah) sebagai berikut:
Teks Tulisan Arab:
(sebutkan nama)… بسم الله، اللهم لك وإليك عقيقة

Tulisan latin: Bismillah Allahumma laka wa ilaika aqiqatu … [sebutkan nama]

Maknanya: Dengan nama Allah. Ya Allah bagi Mu dan kepada Mu aqiqah…..

Dasar Hukum Aqiqah 

Ada tiga (3) pendapat ulama perihal masalah status hukum aqiqah yaitu wajib, sunnah mu’akkad & sunnah.

Sunnah mu’akkad memiliki makna sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Jangan sampai kita mampu membeli motor. Walau kadang dipaksakan dengan mencicil / kredit. Tapi tidak tergerak untuk mengaqiqah putra maupun putri kita.

BACA JUGA : Aqiqah Cilacap

Syarat Dari Hewan Aqiqah 

Adapun syarat hewan untuk aqiqah seperti kambing yang dapat dijadikan aqiqoh, syaratnya itu sama dengan persyaratan hewan qurban (kurban) sebagai berikut:
– Kambing: sempurna telah berusia 1 (satu) tahun dan masuk usia (dua) tahun.
– Domba: sempurna telah berusia 6 (enam) bulan dan masuk bulan ke tujuh (7).
– Tidak boleh ada bagian / anggota badan hewan yang cacat.
– Dagingnya aqiqah tidak boleh dijual.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

– Aqiqah dilaksanakan sunnah pada hari ketujuh lahirnya bayi / anak sekaligus memberi nama.
– Aqiqah dilaksanakan dan dibeli kambing oleh orang tua anak yakni ayah selaku kepala rumah tangga.
– Anak yang belum diaqiqah sampai usia baligh boleh beraqiqah untuk dirinya sendiri & boleh tidak melakukannya. (Lihat: “Hukmul Aqiqah” dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib )

Sunnah Dilakukan Saat Bayi Lahir

Al Ghazi berpendapat dalam kitab Fathul Qarib saat seorang anak lahir, maka disunnahkan orang tuanya (bapaknya) melakukan beberapa hal-hal berikut pada anak tersebut:

  1. Segera setelah anak lahir ayah memperdengarkan adzan telinga kanan anak dan iqomah pada telinga kirinya.
  2. Memberinya sedikit kurma yang telah dilembutkan pada mulut anak sampai tertelan. Apabila tidak ada kurma, maka bisa diganti dengan sesuatu yang manis seperti madu.
  3. Diberi nama saat hari ketujuh. Tapi boleh juga memberi nama sebelum hari ketujuh atau sesudahnya.
  4. Setelah hewan aqiqah disembelih, rambut bayi dipotong & disunnahkan bersedekah dengan emas atau perak seberat timbangan rambut yang dipotong.[1]

Catatan: Kalau misalkan anak tersebut telah meninggal sebelum hari ketujuh, sunnah hukumnya memberi nama.

Sumber: فصل في أحكام العقيقة
[1] Dari Imam Nawawi di dalam kitab Minhajut Talibin (ويُحْلَقَ رأسُه بعد ذبحِها ويُتَصَدَّقَ بزِنَتهِ ذهبًا أو فِضَّةً).

Fadhilah (Keutamaan) dan Manfaat Aqiqah

– Merupakan bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT sekaligus sebagai wujud syukur atas anugrah yang diberikan Allah dengan lahirnya sang anak.

– Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa bahagia dalam melaksanakan syari’at Islam serta bahagia dengan bertambahnya keturunan mukmin yang akan menambah banyak jumlah umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

Pembagian Aqiqah Pada Faqir Miskin

– Pelaku aqiqah / orang tua bayi disarankan memberi makan kepada fakir miskin dengan memasak daging aqiqah sebagai lauknya.

– Pemberian makan daging aqiqah tersebut dapat berupa undangan ke rumah atau dihantarkan ke rumahnya.

Sejarah Aqiqah

Aqiqah memiliki sejarah dalam Islam. Sebelum di utusnya Nabi Muhammad SAW tradisi menyembelih hewan serta mencukur rambut telah ada pada zaman jahiliyah.

Artinya masyarakat jahiliyah pada waktu itu sebelum Nabi SAW diangkat menjadi seorang nabi dan rasul, mereka telah melakukan tradisi menyembelih hewan.

Namun tentu saja pelaksanaannya berbeda dengan contoh dari Rasul SAW.

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh pelaksanaan aqiqah pada saat pelaksanaan aqiqah cucu tercinta beliau Hasan dan Husain. Setelah itu umat islam mengikuti apa yang beliau lakukan hingga masa sekarang.

Masyarakat jahiliyah melaksanakan aqiqah dengan cara yang berbeda dan ajaran Islam datang untuk menyempurnakan.

Aqiqah Pada Zaman Jahiliyah (Pra Islam)

Dahulu pada zaman jahiliyah orang menyambut kelahiran bayi, terutama bayi laki-laki dengan mencukur rambut si bayi dan melumurkan kapas yang telah dibasahi darah hewan kurban / aqiqah.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانُوْا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا عَقُّوْا عَنِ الصَّبِيّ خَضَبُوْا قُطْنَةً بِدَمِ اْلعَقِيْقَةِ. فَاِذَا حَلَقُوْا رَأْسَ الصَّبِيّ وَضَعُوْهَا عَلَى رَأْسِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِجْعَلُوْا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوْقًا.

ابن حبان 12: 124، 5308٥

“Dari Siti ‘Aisyah RA, beliau berkata,”Dahulu manusia pada zaman jahiliyah ketika mereka berakikah untuk seorang bayi, mereka lumurkan kapas dengan darah aqiqah, lalu saat mencukur rambut si bayi, mereka lumurkan pada kepalanya. Maka Nabi SAW bersabda,”Gantilah darah itu dengan minyak wangi” [HR. Ibnu Hibban juz 12, hal. 124, no. 5308]

Hal ini juga dikuatkan dari hadist riwayat Abu Dawud RA.

كُنَّا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا وُلِدَ ِلاَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَ لَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا، فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِاْلاِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَ نَحْلِقُ رَأْسَهُ وَ نَلْطَخُهُ بزَعْفَرَانٍ

. ابو داود 3: 107، رقم: 2843

“Dahulu kami di saat jahiliyah apabila salah seorang dari kami memiliki anak, ia menyembelih kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi.”

( HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107, no. 2843 dari Buraidah).

Aqiqah Zaman Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh aqiqah saat beliau mengadakan acara aqiqah untuk dua cucu kembarnya yakni Hasan dan Husain.
Penjelasan perihal ini ada pada hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Abbas ra yang menyampaikan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan acara aqiqah untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali bin Abi Thalib, masing-masing adalah satu ekor kambing.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing satu ekor gibas (domba)”
(HR. Abu Daud no. 2841)

Namun demikian dalam riwayat lain, An Nasai menyatakan lafazhnya adalah:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing dua ekor gibas (domba).” (HR. An Nasai no. 4219)

Kesimpulannya: syariat Islam menganjurkan untuk memotong kambing aqiqah bagi anak laki-laki adalah dua ekor. Jumlah kambing aqiqah untuk anak perempuan adalah satu ekor adalah yang lebih shahih.

Selanjutnya para sahabat Nabi SAW, tabiin, tabiit tabiin (generasi sesudah tabiin) serta kemudian oleh generasi selanjutnya sampai pada masa sekarang ini.